JEPIT….

Selalu saja sandal jepit itu mengikuti langkahku, dia terpaut dg kakiku karena dijepit, ibu jari kaki dan jari tengah bekerja ekstra tak kita duga untuk mempertahankannya supaya tetap melindungi telapak, dari yang semestinya maupun tidak semestinya. Karena proses itu, maka dia disebut sandal jepit, berbeda dengan sandal selop, sandal jinjit, dan sandal lain…

Tak aku tahu asal muasal sandal, yang kuperhatikan ujungnya bengkok, coba perhatikan…..sebelah dalam lebih masuk, berbeda dengan sandal nabi muhammad yang runcing ditengah, kabarnya kaki beliau berbeda, dari yang kulihat di gambar, sandal kulit dan tautannya begitu fleksibel, jadi ingat sadal gunung yang biasa dipake anakku,

Jepit, ia harus rela tidak diajak pergi kekantor di pagi hari, atau jamuan makan malam, untuk kebanyakan orang, Ia hanya dicari ketika akan membersihkan rumput di kebun, gotong royong membersihkan selokan di komplek, atau pergi ke pos ronda. Beberapa bernasib baik, diajak ke mall, anehnya ia banyak dilirik….meski aneh, sinis yang meliriknya dengan berbagai interpretasi beragam…

Jepit, boleh jadi mewakili klas marginal, menariknya belakangan kuperhatikan banyak aktifis, mahasiwa, seniman, mengajakknya ke berbagai keperluan, formal dan imformal, it bukan lagi hanya terinjaki oleh kaki pekerja. Simbok bakul, tukang becak dan sesamanya….bergesernya jepit menuju klas lain boleh jadi mewakili empati dan keberpihakan kepada yang marginal, tertindas, dan ter…ter yang lain.

Dulu ketika aku kecil, bapak sering sibuk mencari paku atau peniti jika sandal jepitku talinya putus, karena sepanjang pengalaman yang sering rusak adalah bagian tali depan bagian bawah, cukup dengan ditusuk paku atau peniti si jepit berfungsi kembali. Sampai suatu saat tak ada lagi tempat tersisa untuk memasang paku, simbok dari pasar telah siap dengan serempang baru seharga 250 rupiah, dan ia bisa menemaniku kemana saja.

Jepit putih itu tak lagi jelas warnanya, termakan usia, yang ku tahu sejak aku hadir dia sudah berada ditempat itu, nggak jawab ketika ku tanya sudah berapa kaki ia lindungi, siapa saja dia dan dari kalangan mana, ia tetap membisu, menyimpan banyak rahasia….kuduga ia telah pergi ke berbagai tempat dengan orang berbeda, dan keperluan yang berbeda. Tapi dia selalu menjaga siapa yang mengajaknya, dan siap diabaikan kapan saja tanpa protes. Beberapa orang boleh jadi telah membawanya ke masjid, yang lainnya boleh jadi ke pasar, diajak main kartu, komplek pelacuran atau salon plus (yang ini aku tidak yakin). Tapi dia tetap menjaga rahasia itu, tak mengatakannya kepada siapapapun, dia tahu etikanya….ia tetap setia terjepit, dan ditinggal dikamar hotel itu.

Jempit,….. jepit terus sandalmu, dan tempatkan dia ditepat yang semestinya karena dia membantumu…terimakasih pit…

bunga, MAWAR, dan Fulan

Sebuah harian pagi kertaslokal memuat judul menggelitik,” seorang gadis dibawah umur diperkosa”, ….bunga, sebut saja begitu….dst, sementara koran lain “ belasan gadis diduga diperdagangkan”….salah satu anak gadis tersebut, sebut saja mawar (bukan nama sebenarnya) berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat….

Bunga, bisa berarti tanaman yang menyimbolkan keindahan, bunga mawar  contohnya, bunga kamboja sarat dengan nuansa kematian, bunga melati melambangkan kesucian, bunga teratai melambangkan ilmu pengetahuan, bunga sakura menyembulkan keindahan suasana. Ada bunga lain,   bunga bank, bunga trotoar (kata iwan fals) , bunga desa/kembang desa,  artinya sesuka anda……..atau memilih seperti kebanyakan umum .

Mawar yang semula cinta kasih menjadi korban, dia dijadikan alat untuk memberi identitas korban berjenis kelamin perempuan muda. Demikian juga bunga  yang sebelumnya indah menjadi korban, korban sebutan…..apa salah bunga dan mawar  sehingga menjadi sebutan untuk sesuatu yang disamarkan dan cenderung bernasib kurang baik, padahal bunga dan mawar awalnya begitu indah? Mewakili feminisme.

Fulan, tak tahu apa artinya, dan nama siapa itu, darimana asalnya, setara dengan si ANU, seringkali menjadi korban, sesuatu yang disebunyikan, Fulan rasanya tak separah bungan dan mawar, karena tak semuanya merepresentasikan ketidakbaikan, kehinaan, kenistaan, dan semacamnya.

Pada suatu kongres bunga-bunga  yang digelar dikebun raya, mawar pernah mengajukan keberatan atas hal ini, dia meminta forum yang terhormat merekomendasikan untuk melakukan gugatan pada bangsa manusia atas pelecehan yang dilakukan karenanya, mawar  hampir putus asa karena sidang tidak memberikan apapun, padahal pada puluhan tahun silam ketika dunia jurnalistik belum berkembang mawar sempat diirikan sesama bunga karena dia yang selalu dibawa manusia laki untuk dipersebahkan kepada perempuan yang diciantainya, sempat juga bunga kamboja mengajukan protes untuk berpindah posisi dengan mawar dalam representasi  ini, namun tetap saja sampai sekarang tak berhasil, kamboja tetap pada posisinya yang dekat kematian, hanya dalam 5 tahun terakhir dia mulai banyak dikoleksi manusia dan ditempatkan diruang terhormat, taman-taman ketika orang gandrung pada berbagai jenis bunga kamboja, setelah demam Euphorbia berakhir dan kamboja tersungkur oleh keanggunan Anthorium.

Berbeda dengan fulan, dia tak tahu apa yang harus dilakukan, sebab dia hanya bisa menggandeng si ANU untuk mengajukan petisi pada manusia tetang sebutannya itu, Fulan pernah melayangkan surat terbuka kepada publik, agar sebutan dirinya tak lagi digunakan untuk menutupi hal-hal yang tidak baik yang dilakukan manusia laki-laki, dia mengusulkan untuk digantikan sebutan itu dengan yang lain semisal Suharto, atau Sukarno, atau Hitler atau si Bush atau yang lain,…masak saya terus FULAN…..dan si Anu , kenapa tidak yang lain yang nyata-nyata telah berbuat jahat,??? Protes Fulan kian lantang.

Saya termenung,  setahuku Fulan dan Anu tidak melakukan seburuk itu yang disangkakan, dan Bunga dari dulu juga tidak berubah, mawar juga seperti itu dengan aneka warna dan harum baunya………..pertanyaanku tak terjawab ketika sms masuk dengan nada aneh, SELAMAT HARI IBU…..ini lebih aneh lagi???karena aku lelaki dan tak pernah dapat sms SELAMAT HARI BAPAK.

Kosong….

kosongSi perut besar itu berdiri lesu diatas meja, wajahnya pucat tak bergairah, tak ada lagi kegembiraan, , kesendirian yang dirasakan. Seminggu yang lalu dirinya  begitu berharga, diperutnya penuh berisi roti gulung yang berjajar rapi, dibagian depan perutnya sebuah label mewah, ketika seorang ibu menghampirinya, mengangkatnya dan memindahkan kedalam kantong besar dari rajutan plastik. Sesaat kemudian, dari tumpukan kardus yang dia duduki,  berpindah ke ruangan besar dengan lampu terang bergantung, dia duduk diatas ambal beludru yang berada diatas kayu panjang berlapis kaca bening dikelilingi benda besar beludru dan sandaran kayu yang berukir. Sesekali, beberapa pemuda tampan melintas didepannya membuka kepalanya dan menyumput isi perutnya, sesaat kemudian dia mendengan percapakan yang tidak dimengertinya, seorang gadis cantik berkerudung mengelusnya, mengangkatnya ketas pangkuan, menimangnya, dan satu persatu isi perutnya diambil dan dipindahkan, entah kemana. Puas dia berada diatas pangkuan sang gadis, dikembalikan ketas bangku panjang, dan laki-laki tua berjenggot dengan rokok mengepul diantara bibirnya yang kelam bersandar disampingnya dengan tatapan yang aneh, entah apa yang terlintas dibenaknya. Sesaat kemudian dimelirik kepadanya, dengan sorot mata memburu dan tangan yang hitam kelam menarik kepalanya dan lepas, diambilnya isi perut dan dipindahkannya kelubang kecil berambut lembat itu, beberapa kali lelaki tua itu melakukannya sebelum akhirnya mengembalikan lagi tutup kepalanya dengan isi perut yang tinggal setengah.  Namun ia tetap nyaman, nyaman berada ditempat yang mewah ini, terus saja ia memandangi lalu lalang orang dengan beraneka ragam kepribadian dan perlakuan kepadanya, sampai suatu saat begitu banyak orang berada disekitarnya, mengelilinginya dan sesekali menarik kepalanya, mengabil isi perutnya, dan akhirnya kosong , kosong isi perutnya, dan tutup kepalanya dikembalikan dengan kasar, dan dipindahkan dia ketempat yang asing, gelap, berjejer dengan benda lain yang samar-samar ia mengenalinya, si kepala besar, si mulut lebar, dan banyak lagi. Belakangan dia mendengar ia berada didapur sebuah keluarga seorang pejabat dan dia dicampakkan karena tak ada isi lagi diperutnya, perlakukan terhadapnya aneh, tak lagi disentuh, diruang yang gelap dan pengap, tak lagi bisa menikmati timangan gadis berkerudung, atau si tua dengan asap mengepul diantara mulutnya. Ia terbuang.

Suatu pagi, mulut gua itu terbuka, sebuah tangan lembut menariknya, meletakkanya di sebuah bangku panjang yang bentuknya aneh, tangan itu menarik kepalanya dan terbuka, memasukkan benda pipih berbau enak dan ada sejenis benjolan dalam benda pipih itu, tangan itu terus memasukan sampai tak cukup lagi perunya menampung, dengan gerakan memaksa dikembalikannya tutup kepala berwarna biru itu, dan ditariknya dia dan dimasukkan kedalam kantung plastik besar warna biru. Badanya terasa digoyang goyang, sebelum akhirnya ditautkan dan dia merasakan pergerakan cepat diiringi suara mesin yang meraung, seperempat jam kemudian berhenti dan dia dipindahkan diatas bangku panjang, begitu banyak tangan memperebutkannya, menarik kepalanya, mengambil isi perutnya, didorongnya dia kesana kemari, tak berapa lama kemudian dia kehabisan isi perutnya, dan kekacauan itu berakhir, dihempaskan tutup kepalanya, dan dia tak lagi menjadi rebutan, tak dipandang lagi, label perutnya pu robek tak terbaca, isi perutnya kosong, dia tak berharga, dia tergeletak diatas meja, dia mendengar samar-samar berada diruang makan sebuah kantor, tangan-tangan tadi adalah tangan-tangan karyawan yang beradu cepat mengambil isi perutnya, dia begitu berharga dan diperhatikan ketika isinya masih ada, dan dicampakkan ketika kosong, iai perutnya membuat harga dirinya berbeda, sentuhan tangan yang berbeda, pujian yang berbeda, nilai yang berbeda, dan ketika kosong tak lagi bernilai, tak lagi dipajang diruang makan atau ruang tamu, tapi teronggok digudang almari atau tergeletak sendirian diatas meja, menunggu isi yang lain, atau dicampakkan kedalam almari gudang, atau dibuang ketempat sampah, beradu dengan aneka benda asing, dipenuhi air dan jentik nyamuk, dan tentu saja tak ada nilai. Toples itu sebagai wadah tak ada arti tanpa isi, isi menentukan harga diri, tempat duduk dan tongkrongan, sentuhan tangan, atau pujian dan cacian. Nasib toples plastik bertutup biru diatas meja yang kosong.

Tebing Hasrat

Tebing……….

Pagi yang bisu,desing angin malu merayu

Tak juga kamu yg biasa hadir dengan pesan singkatmu

Tak ada kata-kata pilu merdu

Seonggok sampah menambah beban mata

Diujung meja yang berwarna jingga, termakan usia

Hasratkku menggebu untuk meniru kisah para pemburu hantu

Merayap daun pintu menembus rentang tubuhmu, membidikmu

Terrgeletak lesu di ranjang dungu

Bisu…hasrat merayu………………..

Simpang cureh, 2008-12-07

Perjalanan…..

PERCAKAPAN BUTIR PASIR DAN TANAH LIAT

Buku berjudul “sybil, perempuan dengan 16 kepribadian” yang aneh, karya Flora Retha Schreiber tergeletak di meja dengan tekukan pada halaman terlipat, asbak hijau yang penuh abu dan dua buah gelang karet dan beberapa puntung rokok menyebarkan bau khas, gelas teh yang separoh sudah diminum mengundang selera, dan rokok merk class mild yang tapil dengan bungkus baru warna hitam berdampingan dengan korek gas hijau muda sejak pagi tadi menemaniku ngobrol dengan permpuan muda berambut ikal . Sesekali gelas itu kuraih , kuminum, dan ku letakkan pada posisi yang lain dari sebelumnya, tak juga diperhatikan itu, jika titik kepindahan gelas itu bisa dibuat garis, sepanjang hari perpindahan posisi itu bisa jadi merupakan sebuah sketsa yang bisa diartikan sendiri mengenai karakter orang yang meminumnya, itu ahli perilaku akan dengan cepat bisa memberi interpretasi. Aku duduk disini, kursi putar warna biru gelap dengan satu tuas dan empat roda seringkali bergeser tak beraturan sesuai pergeseran pantat dan berat badan yang ditanggungnya, pergeserannya tak beraturan, ini bisa jadi bahan kajian ketetapan berfikir seseorang, tapi siapa yang peduli dengan grafik pergerakan gelas atau pergeseran roda kursi dihubungkan dengan gejolak psikologis seseorang?

Asbak itu menebarkan bau, bau khas, yang sangat tidak nyaman bagi penderita gangguan paru atau yang sensitit terhadap rokok, dan seorang laki-laki duduk didepanku, menceritakan apa yang telah dialaminya selama dua hari ini, tentu saja hal-hal umum, bagaimana dia mengendarai mobil menjemput tamu, mengantarkan sang tamu dengan tertib ditempat yang dituju, dan waktu dia sampai dirumahnya, tentu saja dia tidak menceritakan hal pribadi apa yang dilakukan setelah sampai dirumah, menikmati makan malam dan menyapa anak-anaknya, membicarakan hal-hal yang terjadi dengan istrinya atau apa yang dilakukan ditempat tidur. Begitu banyak detail yang tak terungkap dari keseharian.

Ia memutuskan untuk mengakiri pembicaraan dan memilih killing time dengan mencuci mobilnya, mengelap seluruh bagian, menyempotkan air kebawah bodi yang penuh lumpur dan pasir yang entah dari mana saja datangnya, sepanjang perjalanannya, dan berapa jumlahnya, dan lupur pasir dan kotoran dari berbagai tempat yang berjauhan itu menyatu, terhempas oleh seprotan air dan bercerai berai di garasi, mungkin sesamanya saling bercerita pengalaman perjalannya sampai ketempat ini, garasi.

Sebutir pasir dengan gempita berteriak” aku sudah menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk sampai kesini, bayangkan kawan, kala itu aku berada dilereng gunung di sebuah lokasi pertambangan, jauh dari kampung, boleh ajdi tambang batubara, sebuah roda besa menginjak kami, diantara kami ada yang terjepit diantara roda-roda, kami terus berputar, sebagian saudara kami tercecer entah disepanjang jalan, entah dimana, keadaan kami basah kuyup kali itu dan sangat lembek, kami saling berpegangan, tapi toh sebagian dari kami lepas juga, terhempas, ada yang di medan, di langkat, ada yang diparkir depan warung, sepanjang perjalanan kami kedatangan teman lain, dan kehilangan yang lainnya, termasuk aku terjatuh ketika ada lobang yang cukup dalam dijalan, akhirnya masuk kubangan , setiap saat benda-benda besar menimpa kami, dan aku terlempar bersama air disitu, diinjak lagi benda besar itu, menempel dan jatuh lagi, terinjak lagi, dan jatuh, sekian kali aku diinjak dan jatuh….

Belum selesai ia berteriak, sebutir tanah lempung berseru, ah membual kamu, bukankan kamu ketemu aku dipinggir jalan dekat sawah itu, aku diinjak dan menepel diban speda motor yang lewat sawah itu, dan beberapa saat kemudian terjatuh, dan akhirya tergeletak didekatmu? Setelah itu kita sama-sama terinjak oleh ban ini, terlempar dan menempel dibawah bodi mobil ini, aku berada didepan dan kamu dibelakang, tadi ada air yang menyemprot kita sama-sama terlempar disini?

Benar kawan, aku bermaksud mengatakan kepada kalian, bahwa untuk sampai disini aku menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sudahlah, jangan ceritakan itu, kita bernasib sama berasal dari tempat yang saling berbeda, kenyataannya sekarang ada disini, ditempat ini, dan tidak tahu nanti kita akan kemana lagi, apakah akan terinjak oleh ban mobil atau motor, terselip diantaranya dan akan jatuh ditmpat lain lagi dijalan, atau tukang sapu akan membersihkannya dan membawa kita ketempat sampah dan kita akan bercampur dengan nasi basi, plastik, puntung rokok, dan kotoran lain dan akan lama disitu, mau tidak mau menikmati bau-bau mereka, atau kita akan dipungut oleh pembuat batubata, dicetak dan dibakar sampai rupakita berubah dan dibawa lagi ke suatu tempat, ditata dengan semen, diplester dan kita akan menikmati kepengapan yang panjang disitu tanpa diperhatikan, boleh jadi kita tidak punya pilihan untuk keluar, kecuali bumi akan bergoncang dan bangunan roboh, kita akan hanyut dibawa air hujan atau bajir yang menerjang entah kemana lagi pergi, atau …….

Butiran pasir menyela” kepenginnya sih aku bisa dibawa bawa truk untuk membuat kamar mandi, tapi tidak diplester dan aku akan menyembul keluar, sehingga aku bisa menyaksikan setiap saat bisa menyaksikan berbagai bentuk dan warna celana dalam dan BH perempuan, memperhatikan tingkahnya mandi, berak, atau pipis, jadi ada sedikit hiburan….dan aku akan menulis kecenderungan jiwa dengan model dan warna celana dalam yang dipakai manusia, pasti ini menarik dan belum ada buku yang menulis tentang itu….

Ah kalo aku tidak! Seru segumpal tanah liat, aku lebih suka diambil seniman keramik, akan akan dibetuk menjadi barang seni, dibakar, dicat yang cantik dan akan dijajar ditempat yang baik, dibeli oleh seorang eksekutif muda ditempatkan diruang tamunya yang sejuk berAC, dan selalu bisa mendengarkan pembicaraan mereka mengenai bisnis, pergerakan harga saham, atau kontrak-kontrak proyek yang ditandatangani, dan sesekali aku dibelai lembut oleh tangan-tangan bersih dan ditimang-timang, meski akhirnya kecewa karena tidak pernah menanyakan asalku, mereka akan bertanya dimana membeli, toko apa namanya, atau siapa seniman yang membuatnya. Padahal tau ndak bahwa mereka itu tidak akan berguna jika tidak ada aku, kami, gumpalan tanah seperti kami.

Sudahlah, cetus sedikit kotoran sapi yang sedari tadi tak komentar mendengarkan pembicaraan dua sahabatnya yang senasib itu, senasib dibawa mobil itu sampai di garasi ini, kalian jangan berandai-andai, berdoa saja, kalian tahu tidak, ku kira masih mending kalian seperti itu, aku bahkan tak mengenali lagi diriku, dengan sedih dia berkisah…..” waktu itu aku sebuah daun, hijau, menawan, bersih, dan disanjung karena kehijauanku…kami tumbuh subur diseberang desa, nggak tahu asal mulanya kami diremas dan ditarik si mulut besar, dan ditelannya masuk dalam gua yang gelap, kami bercampur denga liur, dan daun lain, entah apa saja, didalamnya kami digiling, diremas, diserap, remuk tubuh kami tak dikenali, beberapa hari boleh jadi kami didalam gua yang gelap dan berliku, dengan bau yang tidak sedap dan suasana yang tidak nyaman, akhirnya kami didorong keluar, entah dimana kami tidak tahu, kami keluar tak berbentuk lagi, semua berubah menjadi satu adonan, semua menghindari kami, apalagi perempuan cantik atau pemuda gagah, nenek-nenekpun menghindari kami, mereka acuh, jijik melihat kami. Kami kepanasan dan kehujanan dipinggir jalan itu, bebrapa diantara kami berpisah terbawa air hujan, sebagian dari kami tercampakkan diinjak sepeda motor yang dikendarai anak muda yangs sedang mabuk, dan beberapa dari kami diinjak benda hitan besar dan bersatu dengan kalian, semua menghindari kami, apalagi kami teronggok dijalan, mungkin akan berbeda nasib jika kami jatuh dikandang, kami pasti akan disingkirkan oleh pemilik lembu itu kebawah pohon pisang atau dikandang yang tidak kena hujan, dan akan mengering dan dibawa keladang, kami akan menyatu dengan teman-teman kalian dan perlahan akan meresap masuk ke akar dan menjadi salah satu bahan makanan yang diolah dengan sinar matahari di daun-daun, saat ini kami tidak lagi bisa berfikir, kenyataannya kami disini dalam jumlah yang kecilpun diremehkan, disia-siakan, padahal kalo mereka tahu kamilah yang membuat bunga Anthorium yang harganya ratusan juta itu daunnya indah, atau bunga mawar merekah merah dibeli oleh pemuda tampan dan diberikan pacarnya yang cantik hingga kami ikut dicium bibir yang merah merekah, Ah…..kami berkayal

Srooootttttt……pembicaraan mereka terhenti, semprotan air keras menggeser mereka, memporak porandakan ikatan mereka…….sedikit demi sedikit mereka hanyut….hanyut keselokan, selokan disamping garasi….rupanya kawan lain mereka sudah menunggu……berbagai jenis dan unsur serta asal berpadu, memberntuk organisasi baru…..organisasi yang kuat dengan tipe yang khas….lembek, hitam, berbau khas, dan…

Tanganku pegal dan tenggorokanku kering, ku raih gelas teh dan meminumnya untuk membasahi kerongkongan, tanganku berhenti, mengambil rokok dan menyulutnya, menghisap asap dalam-dalam………………sambil berfikir, dunia begitu berwarna….

Lebaran ke-2 Idul Adha,lorong cureh gelanggang , bireuen, NAD, 14.57 wib

DamaI itu…….

rumah AbuMatahari belum juga muncul di ufuk timur, kain sarung yang ia kenakan sejak sembahyang subuh  segera dilepasnya, ia bergegas mengambil celana kotor yang ia taruh tempat penjemuran dipojok gubug  berdinding anyaman bambu beratap rumbia berukuran 3×5 meter itu. Sambil memikul cangkul dan ”garu”, alat meratakan tanah sawah,  lelaki paruh baya itu bergegas menyusuri jalan kampung yang  rumput yang masih dibasahi embun. 15 menit ia berjalan, sampailah disawah seluas 2000 meter milik keponakan yang dipercayakan untuk digarapnya. Berjam-jam ia menarik lumpur yang lembek itu, meratakanya supaya mudah ditanami padi. Benih padi sudah berumur 30 hari, tali temali dari pelepah batang pisang yang dikeringkan telah siap untuk mengikat bibit, tetapi proses pengolahan tanah untuk siap ditanami belum juga usai. Mungkin 3  s/d 4 hari lagi pasejuk tanam padi akan dilakukan.  Peluh membasahi wajah dan badannya,  matahari sudah 30 derajat bergeser dari ufuk timur ketika  Ny Rohani, wanita yang sudah 17 tahun dinikahi dan hampir 10 tahun dia tinggalkan mengangkat senjata bergerak dari satu pos ke pos lain dihutan, tanpa memberikan nafkah sesenpun, perempuan paruh baya itu datang membawa botol aqua berisi kopi hangat dan rantang nasi serta lauk ikan asin balado kesukaannya. Ia segera menyambutnya dengan senyum, menanyakan Ahmad Yani , anak ke-3 dari perkawinan mereka yang berusia 2 tahun. Biasanya anak itu tak luput dari gendongan mamaknya. Aneh rasanya pagi ini tidak menyertai ibunya mengantarkan nasi kesawah. Anak itu sengaja diberi nama sama dengan salah satu Jenderal Militer Indonesia seangkatan Suharto., presiden ke-2 yang telah mangkat beberapa bulan yang lewat. Menurutnya, Ahmad Yani adalah spirit dalam perjuangannya menuntut kemerdekaan Aceh dari Indonesia yang berakhir dengan MoU Helsinki, yang telah memberinya berkah untuk kembali kekampung, menjalani hidup normal sebagai sebuah keluarga bersama anak istri dan orang tuanya. Lelaki itu lahap menyantap nasi yang dihidangkan istrinya.  Ny. Rohani memandangi suaminya dengan bangga, perempuan yang sudah lebih dari 10 tahun menggantikan posisi lelaki itu mencari nafkah, mendidik anak, menghadapi teror dari militer, dan segala beban derita sebagai istri seorang ”pejuang”. Dulu pekerjaan menggarap sawah Rohani yang melakukan, perempuan itu pandai mencangkul , meratakan tanah sawah, menanam padi, memanjat kelapa, dan hampir semua pekerjaan pria. Ia tidak menginginkan itu, tetapi keadaan memaksa ia melakukannya, menggantikan peran suami yang berada di gunung dan kehidupannya tidak diketahui. Kini perempuan itu sedikit berkurang bebannya, pekerjaannya menggarap sawah diambil alih kembali oleh suaminya, ia memiliki lagi tempat berkeluh kesah, ada yang menggantikan menggendong anaknya ketika ia capek atau rewel. Lelaki itu menyeka keringatnya, meletakkan cawan nasi yang telah habis dilahapnya,  menu luar biasa hari ini, ia menikmati masakan istrinya dengan lahap. Keadaan yang jauh berbeda ketika dia digunung, dimana batang kayu dan daun seringakali terpaksa ia santap untuk mengisi perutnya, kadang menu makannya adalah pisang mentah yang disantap dengan cabe, atau suatu ketika terpaksa mengisi perutnya dengan tanah liat yang lembek ketika sehari semalam tersangkut dibibir jurang setelah melompat dari kejaran tentara.  Lelaki itu bernama Ismail bin Abu Bakar alias Abu Tiger, sejak 1994 ia memanggul senjata bersama GAM lainnya  melawan tentara RI. Ayahnya juga seorang pejuang DI / TII anak buah Tgk Daud Beureueh. Semangat perlawanan bu Tiger boleh jadi diturunkan Ayahnya. Belum pernah sekalipun dia tertangkap, namun tangan dan kakinya penuh goresan bekas ditembus peluru atau terkena pecahan granat. Matanya tak lagi mampu melihat tulisan dengan jelas, menurutnya karena terlalu sering terkena asap  mesiu. Bicaranya tegas, runtut, sorot matanya tajam, ingatannya sangat baik. Ia masih mengingat setiap detail peristiwa yang dialaminya, termasuk mengingat waktu dan tempat kejadian. Dibalai-balai depan gubugnya yang mulai lapuk dimakan usia kami berbincang, digelarnya tikar baru diatas balai yang hanya cukup untuk duduk 3 orang. Keadaan yang sungguh berbeda dari pendapat kebanyakan,  bahwa ex combatan GAM telah hidup enak, mewah, menguasai banyak proyek, dan pergi dengan mobil bagus. Namun kondisi Abu Tiger jauh dari kesan tersebut. Ia tinggal digubug yang sudah 10 tahun dibangun ditanah orang lain karena tidak memiliki pekarangan, rumah orang tuanya berada disebelahnya, rumah khas Aceh berbentuk panggung yang hanya dihuni ibunya. Ada kandang kambing 2 ekor dan sapi 1 ekor yang ditempatkan didekat lapangan bola, itupun kebun orang lain. Sapi dan kambing itu bantuan bergulir dari salah satu NGO lokal yang bekerjasama dengan NGO Kanada. Dua bulan sudah abu tiger belajar kembali merawat ternah, musin tanam ini ia mulai belajar kembali bertani, menanam pisang dikebun dan sesekali pergi ke hutan mengambil rotan atau kayu untuk dijual.  Sebagai seorang ex combatan, ia mengalami dilema yang hebat untuk kembali ke masyarakat, bukan soal kesulitan bersosialisasi dengan tetangganya, atau berbincang dengan sesama warga yang dulu ”menyerah” bahkan menjadi ”cuak”, luka dan perbedaan itu dia tutup rapat, itu masa lalu. Baginya memulai kembali menjadi seorang kepala keluarga, mencarikan nafkah, memberikan tempat berteduh yang layak, dan menyekolahkan anak-anaknya adalah tantangan yang lebih berat dibandingkan dengan mempertahankan diri dari serangan TNI maupun menghadapi situasi sulit di hutan tanpa persediaan bekal makanan dan senjata. Tanah tidak punya, keahlian bertani sudah lama ditinggalkan, informasi proyek dia tidak pandai, ketrampilan lain tidak dimiliki, modal yang dijanjikan pemerintah atau santunan lain sebagai korban konflik belum pernah dia dapatkan.  Pernah dia dan teman-temannya menghadap pimpinan KPA wilayah setempat, namun jawabannya” tunggu saja nanti kami kabari, semua sedang di proses” demikian tandas pimpinan KPA setempat. Rumahnya yang gubug sudah sekian kali difoto, kabarnya akan diajukan untuk mendapatkan bantuan dana rehabilitasi, namun sekian kali pula Abu Tiger harus menelan harapan itu.  Baginya, tidaklah tepat menunggu sesuatu yang belum jelas, memang ada banyak truk material yang menganggkut batu lewat desa itu, boleh jadi kalao dia dan teman-temannya di kampung itu mau bisa manarik retribusi Rp10.000 untuk sekali angkut, tapi itu urung dia lakukan, ia tidak mau membebani rakyat, memberi pandangan dan penilaian negatif kepada masyarakat. Mungkin hal ini terjadi di tempat lain, tapi ia menampiknya. Baginya buah perjuangan adalah kehidupan damai, bisa mencari rejeki meskipun susah sungguh, menemani anak-anaknya belajar, pergi kesawah bersama istrinya, duduk dikedai kopi tanpa rasa was-was, dan tidak ingin lagi peristiwa konflik terjadi. Baginya tidak ada yang diuntungkan dari konflik, masyarakat umum menjadi ketakutan, kombatan tidak bisa berkumpul dengan kuluarga, pegawai dan pejabat dihantui ketakutan diculik,anak-anak tidak bisa sekolah karena ketakutan atau sekolahnya dibakar,  tentara juga tidak bisa berkumpul dengan keluarganya, nyawa melayang setiap detik kena muntahan peluru maupun tebasan parang. Kadang memang ada nada ejekan dari masyarakat, apa hasilnya perjuanganmu? Toh yang panggul senjata dengan yang biasa-biasa kayak  kami tidak ada bedanya, bahkan keadaan kami lebih baik! Miris juga  mendengar ejekan ini, ingin rasanya diambil parang ditebas kepalanya atau ditembak kakinya 100x. Namun saat itu juga ia berfikir, bukankan yang kami perjuangkan adalah rakyat Aceh, agar hidup tenteram, diperlakukan adil, menentukan masa depan sendiri, mengelola dan menguasai hak sendiri? Bukankah dokrit GAM dulu juga mengedepankan kepentingan rakyat, kalo saja ia mendapatkan fasilitas lebih, bantuan banyak, bisa beli mobil bagus, buat rumah mewah, namun rakyat Aceh tetep saja kesulitan bukanlah tujuan perjuangan GAM? Bukankan dengan hidup menjalani aktifitas ekonomi sewajarnya, sebagaimana anggota masyarakat lain justru menunjukkan kepada masyarakat dan dunia bahwa mejadi pejuang bukan untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya? Sebagai seorang pejuang, merasakan pahit getir kehidupan saat konflik , baginya tidak ada yang membahagiakan kecuali perdamaian di Aceh tetap abadi. Namun demikian ia merasa belum yakin keadaan ini akan langgeng. Menurutnya bukan soal GAM dan TNI yang akan beradu, tetapi benih-benih pertentangan antar masyarakat muncul karena kesenjangan yang terjadi. Di lingkungan dia saja, menurutnya ada ex kombatan yang hidup mewah bahkan berbuat melampaui batas dalam menumpuk kekayaan, ini tidak saja menimbulkan perasaan iri dan curiga masyarakat umum, namun juga sesama ex GAM. Program reintegrasi yang dicanangkan pemerintah, dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Rehabilitasi Damai Aceh (BRDA) menurutnya tidak menyentuh sampai kebawah. Bahkan tidak dimengerti apa programnya. Abu Tiger, dan teman-teman sekampungnya minimal, belum saturupiahpun mendapatkan bantuan dalam bentuk uang maupun barang. Ketika dikonfirmasi apakah di desa lain juga seperti yang ia alami. Abu Tiger mengangguk. Kalo toh ada dibeberapa tempat lebih baik itu karena pimpinan KPA setempat lebih peduli ke anak buah. Abu Tiger tahu kalau saat ini banyak partai lokal yang muncul untuk bertarung di pemilu 2009. ia oerbah didatangai dan diajak, namun belum bergeming. Boleh jadi tidak berminat. Baginya, ini benih perselisiahan yang bisa berbuntut konflik. Pihak yang tidak suka Aceh damai akan memanfaatkan situasi ini untuk mengacaukan perdamaian di Aceh. Seharusnya pimpinan diatas memperhatikan hal ini dan mencari jalan keluar agar tidak merembes ke masyarakat bawa. Sebagai mantan pejuang yang telah kenyang pengalaman dan taktik perang, yang menurutnya sedikit banyak melibatkan kepekaan politiknya, kedamaian aceh amat ditentukan oleh pemilu 2009. Jika bisa diarahkan bersaing sehat akan mulus perdamaian Aceh. Jika tidak,  darah akan tumpah lebih banyak di Serambi Mekah. Dan Abu Tiger telah merasa capek untuk melihat lahi ceceran darah, dan menghirup bau mesiu. Meskipun perjuangan baru untuk menegakkan periuk nasi saat ini terasa berat, baginya lebih enak menghirup asap dapur yang mengepul, dan menghirup bau ikan asin yang digoreng Rohani istrinya. (ipung64@yahoo.co.id).   *******************

AyaH, perjuangan Baru diMulaI..

ismail-bin-puteh-alias-ayah.jpgNamanya Ismail bin Puteh alias Ayah,  pria berusia 57 tahun itu kelihatan lebih muda dari usianya, mengenakan topi , kaos oblong, celana jean, menunggu kami di kedai kopi di pojok gampong Blang Miro, kira-kira 4 km dari jalan raya Medan – Banda Aceh di wilayah Ulee Glee Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan, kami dibimbing berjalan menuju rumahnya yang berjarak 50 meter dari kedai kopi itu. Sebuah rumah kayu yang sebagian sudah keropos dimakan rayap, atap seng, dan lantai semen yang warnanya mulai pudar. Sebuah kandang sapi terletak dibelakang rumah, dua ekor sapi bantuan dari sebuah NGO yang harus diangsur kepada kelompok, dan seekor lagi ”gaduhan” dari tetangganya. Dua ekor kambing terlihat berkeliaran dikebun , dan ada kandang ayam, sebuah kolam ikan yang belum jadi dibuat disebelah sumur tanpa bibir, kamar mandi disebelahnya terbuat dari batang kayu yang dipancang berdinding terpal yang sudah koyak dimakan usia.  Disinilah Ayah, istri kedua dan ketiga anaknya tingga. Sehari-hari ia berternak, mencari rumput di kebun, memberi umpan sapi dan kambingnya. Istrinya bekerja sebagai buruh tani. Anak lelakinya yang sudah tamat SMA pergi ke Batam setelah gagal kuliah karena tidak memiliki biaya, anak keduanya yang perempuan kelas 2 SMA, dan yang bungsu laki-laki kelas 6 SD. Dari istri pertama yang telah meninggal,  Ismail dikarunia satu orang anak, sekarang sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 anak.  Kami duduk dikursi plastik yang diambil dari dalam rumah dibawah pohon rambutan yang tidak berbuah karena sebagian daunnya kering kena penyakit. Dibawah pohon itu dibuat balai-balai dari papan kayu bekas yang sudah kusam warnanya, cukup nyaman bagi kami untuk ngobrol. Dengan sorot mata tajam, dia mulai menceritakan pengalamannya.  Ayah, demikian orang kampung memanggilnya, sejak tahun 1989 sudah aktif di GAM. Ia masuk GAM menjadi pengawal Tgk Baha, seorang penerangan GAM jebolan Libya. Tahun 1990 -an,  ia bersama 800 orang Aceh lainnya sempat mencari suaka politik ke Malaysia. Namun ia tertangkap bersama 500 orang lainnya. Para pencari suaka ini selanjutnya dipulangkan ke Aceh dengan kapal perang marinir. Menurut ingatannya tidak lebih dari 300 orang yang berhasil sampai di daratan. Para pencari suaka politik ini, tidak sebagaimana dijanjikan, setelah pulang akan diberi pekerjaan, nyatanya dia langsung dipenjarakan kembali. Ia pernah dipenjara di Loksumawe, Tiro, Koramil kecamatan setempat.  Sepanjang perjuangannya menjadi GAM , penyiksaan demi penyiksaan dari sel ke sel yang dia alami. Ketika dipenjara di Tiro misalnya, wajahnya disayat-sayat dengan silet dan pisau komando, lukanya diperasi air jeruk, dan kepalanya dibentur-benturkan. Bekas benjolan akibat luka dikepala masih ada . Jika kepalanya kena hujan atau kepanasan bathok kapalnya terasa lembek seperti kepala bayi baru lahir. Namun bekas luka sayatan dimukanya sudah sembuh lantara diberi obat tradisional berupa campuran minyak tanah, bunga belimbing wuluh merah, bawah merah yang diberikan seorang Tengku setempat.  Tahun 1998, saat reformasi, Ismail dibebaskan, ia bisa menghirup udara bebas, ia kembali ke kampung tapi yang didapati kebun kosong, rumahnya telah dibakar. Ia ikut mertuanya, istrinya meninggal saat ia dipenjara. Ia menjual tanah warisan itu untuk berobat luka-lukanya. Namun tidak kunjung sembuh. Ia sempat menjalani kehidupan normal, merantau ke Meuredu membuka kedai kopi, sambil terus membantu perjuangan teman-temannya yang masih di hutan. Karena situasi memaksa, di terus diintai dan jiwanya makin terancam ia kembali ke hutan. Bagi Ayah, perjuangan panjang sebagai combatan yang telah membawanya pada perpisahan yang panjang dengan anak dan istrinya, perjanjian perdamaian (MoU) di Helsinki memberi arti kebebasan yang luar biasa. Sebagai seorang pejuang, dia telah mengalami hampir semua siksaan selama ditangkap. Dan tidak ingin mengalaminya kembali. Baginya, dapat hidup berkumpul dengan keluarga setiap hari, pergi kemana saja tanpa rasa takut dan was-was, dapat berkebun dan mengerjakan sawah secara aman, dapat menyaksikan TV dikedai depan rumah sampai larut tanpa khawatir adalah buah perjuangan panjangnya. Memang, jika melihat teman sesama pejuang, yang dulunya satu batang rokok dihisap bersama-sama, dan sekarang sudah naik RX King atau mobil baru berkaca gelap, atau membangun rumah bagus, terbersit rasa iri. Namun perasaan itu segera ditepis. Kadang ia merasa sedih ketika mendengar ejekan ” Yang panggul senjata dan berjuang di hutan dengan yang tidak kok sama saja ???” Hatinya perih. Bukankan Perjuangan bukan untuk kekayaan pribadi, kemewahan materi , namun ketenangan dan kedamaian hidup rakyat Aceh. Bukankan jika ayah dan teman-teman GAM saja yang mendapatkan bantuan akan menimbulkan iri hati masyarakat yang lain? Bukankan perjuangan ini untuk masyarakat semua?. Hatinya menjadi tenang dan menanggapi secara wajar. Kadang ia merenung, jangan-jangan anak-anak menyalahkan aku, atau bertanya apakah hanya seperti ini hasil perjuangan Ayah? Hidup tetap saja susah !!! Segera ia dengan hati-hati memberi pengertian pada anak-anaknya. Hasil perjuangan itu adalah saat ini dan akan datang kita bisa kumpul setiap hari bersama, makan bersama, menyaksikan anaknya berangkat sekolah dipagi hari, meskipun naik pick up dan pulang jalan kaki, dan mendampingi istrinya menggarap sawah tetangga dengan sistim bagi hasil, bertanam coklat dikebun, memelihara sapi bantuan . Kabarnya memang ada bantuan untuk ex combatan lewat BRR atau BRDA, nyatanya sampai detik ini serupiahpun ayah belum menerimanya. Hal ini juga dialami teman-teman ayah yang lain. Pernah dia menanyakan langsung pada pimpinan KPA di kabupaten, jawabannya ”Tunggu saja, kami sedang usahakan”. Untuk ini, lebih dari 10 kali ayah dan teman-temannya membuat proposal bantuan dengan menghabiskan jutaan rupiah untuk biaya pengetikan, foto copy, mondar-mandir mengirim dan mengurus proposal itu. Namun tak satupun yang terealisasi. Seekor sapi bantuan dari salah satu NGO lokal istrinya yang mendapat, itupun dengan cara diangsur.  Tiga tahun menunggu bukan waktu yang pendek, Namun dibanding 30 tahun perjuangan GAM bukanlah apa-apa. Ayah tidak bisa menunggu lagi, ia menyadari, ia harus melakukan sesuatu,  inilah perjuangan sesungguhnya, mempertahakan dan mengarungi kehidupan sebagai sebuah keluarga, mencarikan nafkah anak istrinya yang puluhan tahun ia tinggalkan, memberikan ketentraman lahir dan bathin. Sambil terus memimpikan bangunan rumah yang layak untuk keluarganya, dan membiayai pendidikan anak-anaknya supaya lebih baik kehidupannya daripada yang dialami ayah.  Ayah bukan sendiri, ex combatan lain yang tidak pandai melobby proyek, tidak memiliki kawan dekat di dinas dan kontraktor, atau bersikap ”mengamankan”setiap proyek yang ada didaerah sekitarnya , keadaannya sama benar-benar berjuang ”meneruskan hidupnya”. Harapan yang terbersit dibenak Ayah adalah jika memang pemerintah, BRR, BRDA, atau NGO peduli dengan nasib mereka, bantuan jangan juga dikhususkan kepada mereka saja, berikan kepada semua masyarakat yang memang layak mendapatkan . Hal ini penting menurutnya, agar tidak terjadi gab lagi dimasyarakat, supaya tidak timbul konflik antar masyarakat.  Bagi Ayah, situasi damai seperti sekarang sangat membahagiakan, dan berharap jangan sampai terulang kembali koflik seperti yang sudah berlalu. Meskipun baginya, kekawatiran terlintas jelas ketika menyaksikan banyaknya partai lokal yang dibangun berbasis massa atau mengatasnamakan GAM, menurutnya ini bibit konflik dan adu domba. Puncaknya akan terjadi di tahun 2009 dimana partai-partai akan bertarung mengikuti pemilu, dan para elite akan berebut simpati rakyat, untuk berebut kuasa. Selebihnya ??? Ayah hanya tersenyum sambil menyulut rokok kretek yang dipegangnya.