AyaH, perjuangan Baru diMulaI..

ismail-bin-puteh-alias-ayah.jpgNamanya Ismail bin Puteh alias Ayah,  pria berusia 57 tahun itu kelihatan lebih muda dari usianya, mengenakan topi , kaos oblong, celana jean, menunggu kami di kedai kopi di pojok gampong Blang Miro, kira-kira 4 km dari jalan raya Medan – Banda Aceh di wilayah Ulee Glee Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan, kami dibimbing berjalan menuju rumahnya yang berjarak 50 meter dari kedai kopi itu. Sebuah rumah kayu yang sebagian sudah keropos dimakan rayap, atap seng, dan lantai semen yang warnanya mulai pudar. Sebuah kandang sapi terletak dibelakang rumah, dua ekor sapi bantuan dari sebuah NGO yang harus diangsur kepada kelompok, dan seekor lagi ”gaduhan” dari tetangganya. Dua ekor kambing terlihat berkeliaran dikebun , dan ada kandang ayam, sebuah kolam ikan yang belum jadi dibuat disebelah sumur tanpa bibir, kamar mandi disebelahnya terbuat dari batang kayu yang dipancang berdinding terpal yang sudah koyak dimakan usia.  Disinilah Ayah, istri kedua dan ketiga anaknya tingga. Sehari-hari ia berternak, mencari rumput di kebun, memberi umpan sapi dan kambingnya. Istrinya bekerja sebagai buruh tani. Anak lelakinya yang sudah tamat SMA pergi ke Batam setelah gagal kuliah karena tidak memiliki biaya, anak keduanya yang perempuan kelas 2 SMA, dan yang bungsu laki-laki kelas 6 SD. Dari istri pertama yang telah meninggal,  Ismail dikarunia satu orang anak, sekarang sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 anak.  Kami duduk dikursi plastik yang diambil dari dalam rumah dibawah pohon rambutan yang tidak berbuah karena sebagian daunnya kering kena penyakit. Dibawah pohon itu dibuat balai-balai dari papan kayu bekas yang sudah kusam warnanya, cukup nyaman bagi kami untuk ngobrol. Dengan sorot mata tajam, dia mulai menceritakan pengalamannya.  Ayah, demikian orang kampung memanggilnya, sejak tahun 1989 sudah aktif di GAM. Ia masuk GAM menjadi pengawal Tgk Baha, seorang penerangan GAM jebolan Libya. Tahun 1990 -an,  ia bersama 800 orang Aceh lainnya sempat mencari suaka politik ke Malaysia. Namun ia tertangkap bersama 500 orang lainnya. Para pencari suaka ini selanjutnya dipulangkan ke Aceh dengan kapal perang marinir. Menurut ingatannya tidak lebih dari 300 orang yang berhasil sampai di daratan. Para pencari suaka politik ini, tidak sebagaimana dijanjikan, setelah pulang akan diberi pekerjaan, nyatanya dia langsung dipenjarakan kembali. Ia pernah dipenjara di Loksumawe, Tiro, Koramil kecamatan setempat.  Sepanjang perjuangannya menjadi GAM , penyiksaan demi penyiksaan dari sel ke sel yang dia alami. Ketika dipenjara di Tiro misalnya, wajahnya disayat-sayat dengan silet dan pisau komando, lukanya diperasi air jeruk, dan kepalanya dibentur-benturkan. Bekas benjolan akibat luka dikepala masih ada . Jika kepalanya kena hujan atau kepanasan bathok kapalnya terasa lembek seperti kepala bayi baru lahir. Namun bekas luka sayatan dimukanya sudah sembuh lantara diberi obat tradisional berupa campuran minyak tanah, bunga belimbing wuluh merah, bawah merah yang diberikan seorang Tengku setempat.  Tahun 1998, saat reformasi, Ismail dibebaskan, ia bisa menghirup udara bebas, ia kembali ke kampung tapi yang didapati kebun kosong, rumahnya telah dibakar. Ia ikut mertuanya, istrinya meninggal saat ia dipenjara. Ia menjual tanah warisan itu untuk berobat luka-lukanya. Namun tidak kunjung sembuh. Ia sempat menjalani kehidupan normal, merantau ke Meuredu membuka kedai kopi, sambil terus membantu perjuangan teman-temannya yang masih di hutan. Karena situasi memaksa, di terus diintai dan jiwanya makin terancam ia kembali ke hutan. Bagi Ayah, perjuangan panjang sebagai combatan yang telah membawanya pada perpisahan yang panjang dengan anak dan istrinya, perjanjian perdamaian (MoU) di Helsinki memberi arti kebebasan yang luar biasa. Sebagai seorang pejuang, dia telah mengalami hampir semua siksaan selama ditangkap. Dan tidak ingin mengalaminya kembali. Baginya, dapat hidup berkumpul dengan keluarga setiap hari, pergi kemana saja tanpa rasa takut dan was-was, dapat berkebun dan mengerjakan sawah secara aman, dapat menyaksikan TV dikedai depan rumah sampai larut tanpa khawatir adalah buah perjuangan panjangnya. Memang, jika melihat teman sesama pejuang, yang dulunya satu batang rokok dihisap bersama-sama, dan sekarang sudah naik RX King atau mobil baru berkaca gelap, atau membangun rumah bagus, terbersit rasa iri. Namun perasaan itu segera ditepis. Kadang ia merasa sedih ketika mendengar ejekan ” Yang panggul senjata dan berjuang di hutan dengan yang tidak kok sama saja ???” Hatinya perih. Bukankan Perjuangan bukan untuk kekayaan pribadi, kemewahan materi , namun ketenangan dan kedamaian hidup rakyat Aceh. Bukankan jika ayah dan teman-teman GAM saja yang mendapatkan bantuan akan menimbulkan iri hati masyarakat yang lain? Bukankan perjuangan ini untuk masyarakat semua?. Hatinya menjadi tenang dan menanggapi secara wajar. Kadang ia merenung, jangan-jangan anak-anak menyalahkan aku, atau bertanya apakah hanya seperti ini hasil perjuangan Ayah? Hidup tetap saja susah !!! Segera ia dengan hati-hati memberi pengertian pada anak-anaknya. Hasil perjuangan itu adalah saat ini dan akan datang kita bisa kumpul setiap hari bersama, makan bersama, menyaksikan anaknya berangkat sekolah dipagi hari, meskipun naik pick up dan pulang jalan kaki, dan mendampingi istrinya menggarap sawah tetangga dengan sistim bagi hasil, bertanam coklat dikebun, memelihara sapi bantuan . Kabarnya memang ada bantuan untuk ex combatan lewat BRR atau BRDA, nyatanya sampai detik ini serupiahpun ayah belum menerimanya. Hal ini juga dialami teman-teman ayah yang lain. Pernah dia menanyakan langsung pada pimpinan KPA di kabupaten, jawabannya ”Tunggu saja, kami sedang usahakan”. Untuk ini, lebih dari 10 kali ayah dan teman-temannya membuat proposal bantuan dengan menghabiskan jutaan rupiah untuk biaya pengetikan, foto copy, mondar-mandir mengirim dan mengurus proposal itu. Namun tak satupun yang terealisasi. Seekor sapi bantuan dari salah satu NGO lokal istrinya yang mendapat, itupun dengan cara diangsur.  Tiga tahun menunggu bukan waktu yang pendek, Namun dibanding 30 tahun perjuangan GAM bukanlah apa-apa. Ayah tidak bisa menunggu lagi, ia menyadari, ia harus melakukan sesuatu,  inilah perjuangan sesungguhnya, mempertahakan dan mengarungi kehidupan sebagai sebuah keluarga, mencarikan nafkah anak istrinya yang puluhan tahun ia tinggalkan, memberikan ketentraman lahir dan bathin. Sambil terus memimpikan bangunan rumah yang layak untuk keluarganya, dan membiayai pendidikan anak-anaknya supaya lebih baik kehidupannya daripada yang dialami ayah.  Ayah bukan sendiri, ex combatan lain yang tidak pandai melobby proyek, tidak memiliki kawan dekat di dinas dan kontraktor, atau bersikap ”mengamankan”setiap proyek yang ada didaerah sekitarnya , keadaannya sama benar-benar berjuang ”meneruskan hidupnya”. Harapan yang terbersit dibenak Ayah adalah jika memang pemerintah, BRR, BRDA, atau NGO peduli dengan nasib mereka, bantuan jangan juga dikhususkan kepada mereka saja, berikan kepada semua masyarakat yang memang layak mendapatkan . Hal ini penting menurutnya, agar tidak terjadi gab lagi dimasyarakat, supaya tidak timbul konflik antar masyarakat.  Bagi Ayah, situasi damai seperti sekarang sangat membahagiakan, dan berharap jangan sampai terulang kembali koflik seperti yang sudah berlalu. Meskipun baginya, kekawatiran terlintas jelas ketika menyaksikan banyaknya partai lokal yang dibangun berbasis massa atau mengatasnamakan GAM, menurutnya ini bibit konflik dan adu domba. Puncaknya akan terjadi di tahun 2009 dimana partai-partai akan bertarung mengikuti pemilu, dan para elite akan berebut simpati rakyat, untuk berebut kuasa. Selebihnya ??? Ayah hanya tersenyum sambil menyulut rokok kretek yang dipegangnya.

5 Tanggapan

  1. Insya Allah , Allah akan mengabulkan untuk adanya perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam . Salut buat Ayah seluruh dunia . semoga kita juga bisa jadi ayah yang baik yang jadi panutan
    Aceh , aku rindu ingin ke sana lagi

  2. Bersabarlah Ayah…..Allah SWT Maha Tahu segalanya. yang penting Aceh damai selalu.

  3. salam ayah untuk kawan2 yang membaca blog ini, mohon doanya…..

  4. ayah dan sekeluarga aku merindukanmu. semoga dengan adanya suatu alkisah yang ayah berikan bermanfaat. amin…!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.