PERCAKAPAN BUTIR PASIR DAN TANAH LIAT
Buku berjudul “sybil, perempuan dengan 16 kepribadian” yang aneh, karya Flora Retha Schreiber tergeletak di meja dengan tekukan pada halaman terlipat, asbak hijau yang penuh abu dan dua buah gelang karet dan beberapa puntung rokok menyebarkan bau khas, gelas teh yang separoh sudah diminum mengundang selera, dan rokok merk class mild yang tapil dengan bungkus baru warna hitam berdampingan dengan korek gas hijau muda sejak pagi tadi menemaniku ngobrol dengan permpuan muda berambut ikal . Sesekali gelas itu kuraih , kuminum, dan ku letakkan pada posisi yang lain dari sebelumnya, tak juga diperhatikan itu, jika titik kepindahan gelas itu bisa dibuat garis, sepanjang hari perpindahan posisi itu bisa jadi merupakan sebuah sketsa yang bisa diartikan sendiri mengenai karakter orang yang meminumnya, itu ahli perilaku akan dengan cepat bisa memberi interpretasi. Aku duduk disini, kursi putar warna biru gelap dengan satu tuas dan empat roda seringkali bergeser tak beraturan sesuai pergeseran pantat dan berat badan yang ditanggungnya, pergeserannya tak beraturan, ini bisa jadi bahan kajian ketetapan berfikir seseorang, tapi siapa yang peduli dengan grafik pergerakan gelas atau pergeseran roda kursi dihubungkan dengan gejolak psikologis seseorang?
Asbak itu menebarkan bau, bau khas, yang sangat tidak nyaman bagi penderita gangguan paru atau yang sensitit terhadap rokok, dan seorang laki-laki duduk didepanku, menceritakan apa yang telah dialaminya selama dua hari ini, tentu saja hal-hal umum, bagaimana dia mengendarai mobil menjemput tamu, mengantarkan sang tamu dengan tertib ditempat yang dituju, dan waktu dia sampai dirumahnya, tentu saja dia tidak menceritakan hal pribadi apa yang dilakukan setelah sampai dirumah, menikmati makan malam dan menyapa anak-anaknya, membicarakan hal-hal yang terjadi dengan istrinya atau apa yang dilakukan ditempat tidur. Begitu banyak detail yang tak terungkap dari keseharian.
Ia memutuskan untuk mengakiri pembicaraan dan memilih killing time dengan mencuci mobilnya, mengelap seluruh bagian, menyempotkan air kebawah bodi yang penuh lumpur dan pasir yang entah dari mana saja datangnya, sepanjang perjalanannya, dan berapa jumlahnya, dan lupur pasir dan kotoran dari berbagai tempat yang berjauhan itu menyatu, terhempas oleh seprotan air dan bercerai berai di garasi, mungkin sesamanya saling bercerita pengalaman perjalannya sampai ketempat ini, garasi.
Sebutir pasir dengan gempita berteriak” aku sudah menempuh perjalanan berkilo-kilo untuk sampai kesini, bayangkan kawan, kala itu aku berada dilereng gunung di sebuah lokasi pertambangan, jauh dari kampung, boleh ajdi tambang batubara, sebuah roda besa menginjak kami, diantara kami ada yang terjepit diantara roda-roda, kami terus berputar, sebagian saudara kami tercecer entah disepanjang jalan, entah dimana, keadaan kami basah kuyup kali itu dan sangat lembek, kami saling berpegangan, tapi toh sebagian dari kami lepas juga, terhempas, ada yang di medan, di langkat, ada yang diparkir depan warung, sepanjang perjalanan kami kedatangan teman lain, dan kehilangan yang lainnya, termasuk aku terjatuh ketika ada lobang yang cukup dalam dijalan, akhirnya masuk kubangan , setiap saat benda-benda besar menimpa kami, dan aku terlempar bersama air disitu, diinjak lagi benda besar itu, menempel dan jatuh lagi, terinjak lagi, dan jatuh, sekian kali aku diinjak dan jatuh….
Belum selesai ia berteriak, sebutir tanah lempung berseru, ah membual kamu, bukankan kamu ketemu aku dipinggir jalan dekat sawah itu, aku diinjak dan menepel diban speda motor yang lewat sawah itu, dan beberapa saat kemudian terjatuh, dan akhirya tergeletak didekatmu? Setelah itu kita sama-sama terinjak oleh ban ini, terlempar dan menempel dibawah bodi mobil ini, aku berada didepan dan kamu dibelakang, tadi ada air yang menyemprot kita sama-sama terlempar disini?
Benar kawan, aku bermaksud mengatakan kepada kalian, bahwa untuk sampai disini aku menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sudahlah, jangan ceritakan itu, kita bernasib sama berasal dari tempat yang saling berbeda, kenyataannya sekarang ada disini, ditempat ini, dan tidak tahu nanti kita akan kemana lagi, apakah akan terinjak oleh ban mobil atau motor, terselip diantaranya dan akan jatuh ditmpat lain lagi dijalan, atau tukang sapu akan membersihkannya dan membawa kita ketempat sampah dan kita akan bercampur dengan nasi basi, plastik, puntung rokok, dan kotoran lain dan akan lama disitu, mau tidak mau menikmati bau-bau mereka, atau kita akan dipungut oleh pembuat batubata, dicetak dan dibakar sampai rupakita berubah dan dibawa lagi ke suatu tempat, ditata dengan semen, diplester dan kita akan menikmati kepengapan yang panjang disitu tanpa diperhatikan, boleh jadi kita tidak punya pilihan untuk keluar, kecuali bumi akan bergoncang dan bangunan roboh, kita akan hanyut dibawa air hujan atau bajir yang menerjang entah kemana lagi pergi, atau …….
Butiran pasir menyela” kepenginnya sih aku bisa dibawa bawa truk untuk membuat kamar mandi, tapi tidak diplester dan aku akan menyembul keluar, sehingga aku bisa menyaksikan setiap saat bisa menyaksikan berbagai bentuk dan warna celana dalam dan BH perempuan, memperhatikan tingkahnya mandi, berak, atau pipis, jadi ada sedikit hiburan….dan aku akan menulis kecenderungan jiwa dengan model dan warna celana dalam yang dipakai manusia, pasti ini menarik dan belum ada buku yang menulis tentang itu….
Ah kalo aku tidak! Seru segumpal tanah liat, aku lebih suka diambil seniman keramik, akan akan dibetuk menjadi barang seni, dibakar, dicat yang cantik dan akan dijajar ditempat yang baik, dibeli oleh seorang eksekutif muda ditempatkan diruang tamunya yang sejuk berAC, dan selalu bisa mendengarkan pembicaraan mereka mengenai bisnis, pergerakan harga saham, atau kontrak-kontrak proyek yang ditandatangani, dan sesekali aku dibelai lembut oleh tangan-tangan bersih dan ditimang-timang, meski akhirnya kecewa karena tidak pernah menanyakan asalku, mereka akan bertanya dimana membeli, toko apa namanya, atau siapa seniman yang membuatnya. Padahal tau ndak bahwa mereka itu tidak akan berguna jika tidak ada aku, kami, gumpalan tanah seperti kami.
Sudahlah, cetus sedikit kotoran sapi yang sedari tadi tak komentar mendengarkan pembicaraan dua sahabatnya yang senasib itu, senasib dibawa mobil itu sampai di garasi ini, kalian jangan berandai-andai, berdoa saja, kalian tahu tidak, ku kira masih mending kalian seperti itu, aku bahkan tak mengenali lagi diriku, dengan sedih dia berkisah…..” waktu itu aku sebuah daun, hijau, menawan, bersih, dan disanjung karena kehijauanku…kami tumbuh subur diseberang desa, nggak tahu asal mulanya kami diremas dan ditarik si mulut besar, dan ditelannya masuk dalam gua yang gelap, kami bercampur denga liur, dan daun lain, entah apa saja, didalamnya kami digiling, diremas, diserap, remuk tubuh kami tak dikenali, beberapa hari boleh jadi kami didalam gua yang gelap dan berliku, dengan bau yang tidak sedap dan suasana yang tidak nyaman, akhirnya kami didorong keluar, entah dimana kami tidak tahu, kami keluar tak berbentuk lagi, semua berubah menjadi satu adonan, semua menghindari kami, apalagi perempuan cantik atau pemuda gagah, nenek-nenekpun menghindari kami, mereka acuh, jijik melihat kami. Kami kepanasan dan kehujanan dipinggir jalan itu, bebrapa diantara kami berpisah terbawa air hujan, sebagian dari kami tercampakkan diinjak sepeda motor yang dikendarai anak muda yangs sedang mabuk, dan beberapa dari kami diinjak benda hitan besar dan bersatu dengan kalian, semua menghindari kami, apalagi kami teronggok dijalan, mungkin akan berbeda nasib jika kami jatuh dikandang, kami pasti akan disingkirkan oleh pemilik lembu itu kebawah pohon pisang atau dikandang yang tidak kena hujan, dan akan mengering dan dibawa keladang, kami akan menyatu dengan teman-teman kalian dan perlahan akan meresap masuk ke akar dan menjadi salah satu bahan makanan yang diolah dengan sinar matahari di daun-daun, saat ini kami tidak lagi bisa berfikir, kenyataannya kami disini dalam jumlah yang kecilpun diremehkan, disia-siakan, padahal kalo mereka tahu kamilah yang membuat bunga Anthorium yang harganya ratusan juta itu daunnya indah, atau bunga mawar merekah merah dibeli oleh pemuda tampan dan diberikan pacarnya yang cantik hingga kami ikut dicium bibir yang merah merekah, Ah…..kami berkayal
Srooootttttt……pembicaraan mereka terhenti, semprotan air keras menggeser mereka, memporak porandakan ikatan mereka…….sedikit demi sedikit mereka hanyut….hanyut keselokan, selokan disamping garasi….rupanya kawan lain mereka sudah menunggu……berbagai jenis dan unsur serta asal berpadu, memberntuk organisasi baru…..organisasi yang kuat dengan tipe yang khas….lembek, hitam, berbau khas, dan…
Tanganku pegal dan tenggorokanku kering, ku raih gelas teh dan meminumnya untuk membasahi kerongkongan, tanganku berhenti, mengambil rokok dan menyulutnya, menghisap asap dalam-dalam………………sambil berfikir, dunia begitu berwarna….
Lebaran ke-2 Idul Adha,lorong cureh gelanggang , bireuen, NAD, 14.57 wib